PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP IDENTITAS SUATU BANGSA

PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP IDENTITAS SUATU BANGSA

 

KATA PENGANTAR

 

Pertama saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunianya yang telah diberikan kepada saya. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW, beserta sahabat dan keluarganya, serta pengikutnya hingga akhir zaman. Amin.

Semoga dengan tersusunnya makalah ini, diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam memahami bagaimana pengaruh dari Globalisasi terhadap Identitas Nasional suatu bangsa, terutama terhadap bangsa Indonesia.

Saya menyadari bahwa penulisan dan penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu adanya masukan, pendapat, maupun kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan. Semoga hasil makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan dan mendapat ridho Allah SWT. Amin.

 

                       

Bekasi, 21 Mei 2014

 

 

 

 

 

 

                                   

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………  ii

DAFTAR ISI………………………………………………………..…………………….…….  iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………..…..………   1

A.      Latar Belakang …………………………………………………………………………….  1

B.      Rumusan Masalah ………………………………………………………………….……..  2

C.       Tujuan ………………………………………………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………………… 3

A.      Pengertian Budaya……………………………………………………………………………………………… 3

B.      Pengertian Globalisasi Budaya……………………………………………………………………………..  3

C.       Faktor Pendorong Terjadinya Globalisasi Budaya……………………………………………………..  4

D.      Dampak Globalisasi Terhadap Kebudayaan dan Identitas Nasional…………………………….   5

BAB III PENUTUP ……………………………………………………………………………… 7

Kesimpulan ………………………………………………………………………………………  7

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………. 8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar belakang

Globalisasi adalah suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia.

Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengertian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya dan lain-lain.

Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita.

Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.(A.G. Mc.Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antar masyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah, seperti kebudayaan gotong royong, menjenguk tetangga sakit dan lain-lain. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut, dan sebagainya

 

B.     Rumusan masalah

1.      Apa itu Budaya?

2.      Apa yang dimaksud dengan Globalisasi Budaya?

3.      Faktor-faktor apa saja yang mendorong proses Globalisasi Budaya?

4.      Apa dampaknya pada Kebudayaan dan Identitas Nasional?

 

C.     Tujuan

1.      Mengetahui apa pengertian dari Budaya

2.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan Globalisasi Budaya

3.      Mengetahui apa saja faktor-faktor yang mendorong proses terjadinya Globalisasi Budaya

4.      Mengetahui dampak dari Globalisasi Budaya terhadap Kebudayaan dan Identitas Nasional

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.     Pengertian Budaya

Dalam pranala Wikipedia, didapatkan arti daripada budaya sebagai berikut:

“Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata Culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian, dapat di identifikasikan bahwa budaya atau kebudayaan berasal dari manusia melalui suatu proses berpikir dan bertindak. Hal itu dijelaskan bahwa budaya memiliki kaitan dengan budi dan akal manusia. Sementara, mengolah tanah atau bertani juga melalui proses-proses berpikir dan bertindak itu sendiri.

Sedangkan para ahli, mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai budaya. Menurut Edward B. Taylor kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya mengandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Sementara itu Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, menurut mereka kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Satu kesamaan dalam definisi tentang kebudayaan menurut para ahli, adalah variabel yang menyusun kebudayaan sehingga dikatakan demikian, dan semua itu memiliki sumber yang sama adalah masyarakat. Jadi, masyarakat sangat memiliki peranan yang banyak dalam membentuk kebudayaan. Dalam hal ini, tentunya sifat solid yang dimiliki oleh masyarakat sebagai suatu kesatuan komunitas yang membentuk budaya, akan mampu mempertahankannya.

 

B.     Pengertian Globalisasi Budaya

Dalam definisi globalisasi menurut beberapa ahli, salah satunya adalah Jan Aart Scholte mengatakan globalisasi adalah, “serangkaian proses dimana relasi sosial menjadi relatif terlepas dari wilayah geografis”. Sementara bilamana menilik definisi budaya, diatas, maka bisa diartikan bahwa globalisasi budaya adalah, “serangkaian proses dimana relasi akal dan budi manusia relatif terlepas dari wilayah geografis”.

Hal ini memunculkan jalinan situasi yang integratif antara akal dan budi manusia disuatu belahan bumi yang lain dengan yang lain. Sementara itu, dalam pandangan kaum hiperglobalis mereka berpendapat tentang definisi globalisasi budaya adalah, …homogenization of the world under the auspices of American popular culture or Western consumerism in general. Ini berarti bahwa globalisasi budaya adalah proses homogenisasi dunia dibawah bantuan budaya popular Amerika atau paham konsumsi budaya Barat pada umumnya. Definisi hiperglobalis tersebut, jika bisa disamakan dengan keanekaragaman istilah globalisasi pada umumnya, yang salah satunya adalah Westernisasi. Dimana ada penyebaran kebudayaan Barat terutama kebudayaan Amerika.

Namun, jika dilihat lebih lanjut, definisi dari paham hiperglobalis tidak bisa lepas daripada sifat-sifat yang cenderung mengandung pikiran ekonomi, atau berorientasi ekonomi. Hal itu jelas dapat dilihat dan dinilai, dari penekanan paham konsumsi terhadap budaya Barat pada umumnya. Jadi bisa juga diartikan bahwa, budaya Barat adalah budaya yang diperjual-belikan, sementara masyarakat dunia pada umumnya adalah konsumen yang menikmati. Sehingga munculah kondisi dimana istilah Westernisasi digunakan sebagai simbolis terhadap sifat konsumerisme tersebut. Baik itu konsumsi terhadap bentuk pemerintahan atau sistem politik, mekanisme pasar atau paham ekonomi, bahkan hingga bentuk celana Jeans atau kebudayaan. Masih menyangkut tentang globalisasi budaya, dari definisi tersebut maka lahirlah apa yang dikatakan sebagai global pop culture. Global Pop Culture adalah budaya tren dalam suatu wilayah atau region yang kemudian dipopulerkan hingga ke taraf dunia atau lingkup global.

 

Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan, yaitu :

·         Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.

·         Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.

·         Berkembangnya turisme dan pariwisata.

·         Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.

·         Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.

·         Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti piala dunia FIFA.

·         Persaingan bebas dalam bidang ekonomi

·         Meningkatkan interaksi budaya antar negara melalui perkembangan media massa

 

 

C.     Faktor Pendorong Terjadinya Globalisasi Budaya

Berbicara mengenai faktor, sama seperti berbicara mengenai alasan, sehingga tentunya akan muncul banyak alasan atau faktor-faktor yang membentuk sesuatu tersebut menjadi sebuah masalah. Dalam sebuah situs atau pranala, dikatakan sebagai faktor utama penyebab globalisasi budaya adalah pesatnya perkembangan teknologi informasi, khususnya pada awal abad ke-20.

Sementara itu, pranala lainnya yang membahas tentang global pop culturemenyatakan sejumlah faktor penyebab terjadinya globalisasi budaya adalah sebagai berikut: “causes included the development of new technologies and the economic globalization of capital, labor, natural resources, production, and consumption. Political factors also played a role, from imperialism and nationalism to totalitarian states and the Cold War; so to did social struggles over the construction of race, class, ethnicity, religion, and gender.” Ternyata, perkembangan teknologi tidak semata menjadi faktor utama, dalam hal ini globalisasi ekonomi juga ikut berperan, bahkan hingga kepada faktor-faktor politik. Hal ini juga menjelaskan mengapa globalisasi tidak terlepas dari politik, ekonomi, bahkan budaya, yang ditenggarai sebagai globalisasi ketiga.

Kebudayaan dalam suatu bangsa tentunya akan berkembang dari masa ke masa sesuai perkembangan teknologi yang ada. Mulai dari kebudayan yang masih dikatakan tradisional ,peralihan bahkan budaya yang telah mengalami modernisasi. Perubahan atau pergeseran suatu kebudayaan sudah sering kita dengar. Dan tentunya, semua memiliki faktor-faktor penyebab. Faktor-faktor penyebab ini ada yang berupa faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan diantaranya yaitu adanya penemuan-penemuan baru yang hadi di kehidupan masyarakat seperti discovery,invention, dan inovation. Faktor lainnya yaitu adanya pertambahan dan pengurangan penduduk (kelahiran, kematuan, dan migrasi), adanya konflik yang terjadi di dalam masyarakat, dan yang terakhir adanya pemberontakan atau revolusi.

Faktor ekstern , merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam perubahan kebudayaan suatu bangsa. Seperti yang telah kita ketahui, yaitu adanya globalisasi yang telah menyebar luas melalui berbagai media. Globalisasi ini dapat berupa kebudayaan asing yang masuk ke dalam suatu bangsa. Masuknya kebudayaan asing ke dalam suatu bangsa dapat berupa difusi (penyebaran kebudayaan), alkulturasi (penggabungan kebudayaan namun masih terlihat ciri khas), dan asimilasi (penggabungan kebudayaan yang menghasilkan budaya yang benar-benar baru). Dalam hal ini ,sangatlah diperlukan rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri. Jika tidak, maka kebudayaan asli suatu bangsa akan semakin terkikis sedikit demi sedikit dan bahkan akan menghilang.

Salah satu contoh perubahan kebudayaan yang diakibatkan oleh globalisasi yaitu jenis makanan yang kita konsumsi juga mulai terpengaruh akan budaya asing. Lihat saja di sebuah pertokoan atau mall-mall .Banyak sekali yang menjual makanan luar seperti steak,burger dan lain-lain. Masyarakat lebih memilih mengkonsumsi makanan tersebut karena dianggap lebih modern dan praktis. Dan tanpa disadari, menjadi menu keseharian dalam kehidupan masyarakat. Ini akan mengakibatkan semakin langkanya dan dilupakannya jenis makanan khas atau makanan tradisional. Contoh lain yaitu di daerah Sunda. Tampak secara jelas bahwa semakin jarang dan berkurangnya penggunaan bahasa komunitas masyarakat sunda ,khususnya para generasi muda. Para generasi muda mulai merasa “gengsi” menggunakan bahasa keseharian yang memang mereka kuasai. Ini membuat seakan-akan bahasa sehari-hari di daerah Sunda ini menjadi sebuah “keterbelakangan”.

Dari contoh diatas, jelas sekali memperlihatkan bahwa generasi muda lebih menggemari kebudayaan asing . Sehingga membuat budaya asli suatu bangsa bergeser posisinya. Padahal belum tentu budaya asing tersebut akan cocok dengan kepribadian mereka. Jadi dapat disimpulkan ,bahwa walaupun kita tidak harus menolak secara seluruhnya akan budaya asing yang datang, tetapi kita harus dapat menyaring atau memilah-milah mana saja kebudayaan yang cocok atau dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima. Semuanya kembali pada kesadaran masing-masing tiap individu, apakah ingin memelihara kebudayaan suatu bangsa itu sendiri atau lebih memilih kebudayaan asing yang akan selalu hadir dari masa ke masa sesuai perkembangan teknologi yang ada.

 

D.     Dampak Globalisasi Terhadap Kebudayaan dan Identitas Nasional

Yang disebut dengan identitas nasional merupakan suatu penjelmaan nilai-nilai budaya suatubangsa yang memiliki nilai historis mengenai sejarah panjang dari suatu bangsa. Budaya it kemudian muncul dan mendarah daging dalam nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat yang kemudian tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Identitas Nasional itu sendiri terdiri dari dua kata, yaitu “identitas” dan “nasional”. Secara etimologi(bahasa), kata identitas memiliki arti ciri-ciri, sifat-sifat,keadaan khusus yang melekat pada suatu halyang menunjukkan jati dirinya. Sedangkan Nasional berasal dari kata ”nasion” yang berarti bangsa,menunjuk kepada sifat khas kelompok yang memiliki kesamaan semangat, cita-cita, tujuan,ideologi,dan lain sebagainya. Jadi Identitas Nasional itu sendiri dapat diartikan sebagai ciri-ciriatau sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsalainnya. Oleh karena ciri-ciri yang terdapat dalam identitas nasional itu, suatu negara mampu menampilkan watak, karakteristik kebudayaan dan memperkuat rasa kebangsaan. Karena kedudukannya yang amat penting itu, identitas nasional harus dimiliki oleh setiap bangsa. Karena tanpa identitas nasional suatu bangsa akan terombang-ambing.

Pada dasarnya, pemahaman akan arti identitas bangsa itu tidak terlepas dari sikap nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme menunjukkan secara psikologis tingkat loyalitas seseorang yang diwujudkan dalam suatu tindakan nyata. Sedangkan Patriotisme merupakan semangat cinta tanah air dan rela berkorban untuk kemakmuran tanah airnya. Kedua hal tersebut dapat diimplementasikan misalnya dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, melestarikan budaya daerah, memperkenalkan dan mempromosikan produk dan budaya Indonesia di berbagai event internasional, dan lain-lain.

Sebagai negara yang sudah berdaulat berpuluh tahun lamanya, secara teoritis Indonesia sudah menganggap bahwa dirinya memiliki identitas nasional. Akan tetapi pada kenyatannya fenomenayang terjadi di masyarakat memperlihatkan terjadinya kekritisan identitas tersebut yang mengancamdisintegrasi. Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitasbangsanya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memahami dengan baik arti dari identitasnasional itu sendiri.

Di tengah arus globalisasi seperti sekarang ini, identitas yang dimiliki bangsa kita akan sangat mudah terkikis dengan adanya pengaruh yang timbul dari pihak luar. Karena tidak mengenali jati diri bangsanya dengan baik, masyarakat seakan-akan kehilangan arah. Sehingga ketika budaya-budayabarat masuk ke negara kita ini, rasanya begitu sangat cepat di serap oleh berbagai lapisan masyarakat. Arus Globalisasi yang sangat kuat akan mempercepat disintegrasi nasional dan mengancam hilangnya jati diri bangsa akibat perkembangan zaman. Sudah hal yang sangat lazim kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dampak negatif dari arus globalisasi itu.

Di bidang ekonomi, telah berkembang nilai-nilai konsumerisme sehingga para konsumen lebih memilih untuk berbelanja di swalayan daripada di pasar lokal atau tradisional. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan konsumen di pasar lokal itu sendiri. Di samping itu, sebagian besar masyarakat di berbagai lapisan kalangan masyarakat merasa lebih bangga jika mereka mampu membeli barang-barang impor yang merupakan produk buatan asing, lebih dari produk buatan bangsanya sendiri. Bahkan jika ditanya mengenai contoh produk-produk lokal (Indonesia) itu apa saja, kebanyakan dari mereka hanya bisa menjawab sedikit dari ratusan yang seharusnya ada. Sebaliknya,ketika mereka ditanyakan mengenai produk-produk asing mereka akan dengan cekatan menyebutkannya satu per satu. Suatu pertanyaan yang kemudian muncul di benak saya, apakah mereka tahu dampaknya bagi negara dan bagi mereka, apa yang akan terjadi jika suatu saat produk-produk asing tersebut telah berkuasa sepenuhnya di pasar Indonesia dan berhasil menyingkirkan produk-produk lokal? Saya rasa tidak semua dari mereka tahu akan jawabannya.

Kemudian dari segi budaya, dampak dari arus globalisasi ini memiliki pengaruh yang sangat besar. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, penyebaran informasi melalui berbagai media sangat mudah dilakukan. Dengan adanya media elektronik yang semakin merakyat memudahkan masyarakat Indonesia untuk mengenal budaya-budaya dari luar yang ditayangkan di media itu sendiri. Dengan adanya teknologi seperti handphone, komputer, televisi, internet dan sebagainya akan sangat membantu dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun ada kalanya banyak oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyalahgunakan teknologi tersebut untuk meracuni pikiran generasi-generasi muda penerus bangsa. Sebagai contoh disebarkannya video-video porno melalui internet, aksi-aksi kekerasan yang sejatinya termasuk tindakan amoral, dan sebagainya kian hari makin merusak moral generasi muda kita. Selain itu, melalui internet dan televisi juga memudahkan masyarakat untuk mengenal budaya-budaya dari luar . Namun kebanyakan tayangan tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat Indonesia, kurang mendidik dan cenderungmerusak moral bangsa karena banyak meniru budaya-budaya barat.

Setelah melihat melihat kenyataan dalam fenomena yang berkembang di tengah-tengah masyarakat ini, sudah terlihat jelas bahwa kian hari identitas nasional bangsa Indonesia kian hari kian terkikis. Hal ini disebabkan salah satunya karena tidak adanya kesiapan masyarakat kita dalam menghadapi arus globalisasi yang kuat. Tantangan bagi bangsa Indonesia ini nyata. Arus globalisasi yang kuat kian hari memang mengancam eksistensi jati diri bangsa Indonesia. Sebut saja fenomena ini sebagai guncangan budaya (cultural shock). Tapi sebenarnya siapa yang bertanggung jawab atas fenomena ini? Arus globalisasinya kah? Atau pemerintah Indonesia yang kurang sigap mendidik masyarakatnya untuk mengenal jati diri bangsanya? Atau masyarakat Indonesia yang kurang selektif dalam menanggapi globalisasi itu sendiri? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dikembalikan kepada diri pribadi kita masing-masing.

Globalisasi itu mutlak dan harus terjadi. Kehadirannya merupakan bagian yang krusial bagiperkembangan zaman menuju peradaban yang lebih baik. Yang menjadi permasalahan adalah mampu atau tidaknya kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai individu, menyaring efek-efek negatif yang inheren dalam arus globalisasi itu sendiri. Secara makro, diperlukan sebuah diskusi panjang mengenai strategi kebudayaan nasional yang diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi pudarnya identitas bangsa ini. Sudah saatnya bagi pemerintah kita mulai bergerak, mensosialisasikan dan menggalakkan kembali nilai-nilai dan budaya yang menjadi identitas bangsa kita melalui aksi-aksi nyata. Program-program pemerintah, apapun itu, tidak akan pernah berjalan dengan baik jika kita sebagaimasyarakat tidak ikut berperan aktif didalamnya.

Hal pertama yang menjadi PR kita bersama sebagai warga yang peduli akan identitas bangsanya, adalah bagaimana cara menumbuhkan kembali sifat-sifat identitas nasional itu ke dalam pribadi masing-masing. Langkah yang paling nyata untuk memulainya yaitu dengan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari hal kecil, seperti membiasakan diri untuk menggunakan produk dalam negeri, merupakan contoh pencerminan sederhana namun sangat berarti. Kesiapan dan komitmen kita untuk menjunjung identitas nasional bangsa kita, tercermin dari sejauh mana kita mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan :

Pengaruh globalisasi disatu sisi ternyata menimbulkan pengaruh yang negatif bagi kebudayaan bangsa Indonesia. Norma-norma yang terkandung dalam kebudayaan bangsa Indonesia perlahan-lahan mulai pudar. Gencarnya serbuan teknologi disertai nilai-nilai interinsik yang diberlakukan di dalamnya, telah menimbulkan isu mengenai globalisasi dan pada akhirnya menimbulkan nilai baru tentang kesatuan dunia. Radhakrishnan dalam bukunya Eastern Religion and Western Though (1924) menyatakan “untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kesadaran akan kesatuan dunia telah menghentakkan kita, entah suka atau tidak, Timur dan Barat telah menyatu dan tidak pernah lagi terpisah. Artinya adalah bahwa antara barat dan timur tidak ada lagi perbedaan. Atau dengan kata lain kebudayaan kita dilebur dengan kebudayaan asing.”

Sebagai rakyat Indonesia, sebaiknya kita dapat memanfaatkan arus globalisasi secara baik dan benar, sehingga sesuai kaidah yang ada. Kemudian,untuk membendung arus globalisasi yang sangat deras tersebut, harus diupayakan suatu kondisi (konsepsi) agar ketahanan nasional dapat terjaga. Kita perlu mengingat kembali pesan Bung Karno, yaitu ´Jadilah bangsa yang cerdas, buat rasa Indonesia, buat negara lain tersenyum pada kita Indonesia, agar identitas serta ciri khas bangsa ini tidak lenyap. Untuk mencapai hal itu, adalah dengan cara membangun sebuah konsep nasionalisme kebangsaan yang mengarah kepada konsep identitas nasional.

 

Saran :

Perlu dipertahanannya aspek sosial budaya Indonesia sebagai identitas bangsa. Caranya adalah dengan penyaringan budaya yang masuk ke Indonesia dan pelestarian budaya bangsa. Bagi masyarakat yang mencoba mengembangkan seni tradisional menjadi bagian dari kehidupan modern, tentu akan terus berupaya memodifikasi bentuk-bentuk seni yang masih berpolakan masa lalu untuk dijadikan komoditi yang dapat dikonsumsi masyarakat modern. Karena sebenarnya seni itu indah dan mahal. Kesenian adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa asing. Oleh sebab itu, sebagai generasi muda, yang merupakan pewaris budaya bangsa, hendaknya memelihara seni budaya kita demi masa depan anak cucu.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

David Held, Anthony Mcgrew, David Goldblatt dan Jonathan Peron, Global Transformations,

Polity Press, Cambridge, 1999.

 

Fred L. Fry, Charles R. Stoner, dan Richard E. Hattwick, Business: An Integrative Approach

third edition, McGraw-Hill Companies, Inc., 2004.

 

Michelli, Joseph A.: The Starbucks Experience: 5 Prinsip untuk Mengubah Hal Biasa menjadi

Luar Biasa. Esensi Erlangga Group. Jakarta 2007.

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi 

http://www.scribd.com/doc/86700998/Dampak-Globalisasi-Terhadap-Identitas-Nasional http://yummei.student.fkip.uns.ac.id/pengaruh-globalisasi-terhadap-eksistensi-kebudayaan-daerah/ 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s